Rabu, 12 November 2014

Resensi Buku


Identitas buku

Judul buku                   : Kimia Dasar 1
Penulis                         : Drs. Syukri S – FPMIPA, IKIP Padang
Pendamping                 : Dr. Sadijah Achmad – FMIPA, ITB
Penerbit                       : Penerbit ITB
Tahun terbit                  : 1999
Tempat terbit                : Bandung
Cetakan                       : Pertama
Ukuran                         : 25 cm x 17,5 cm
Halaman                       : 21a + 251 halaman


    


     Buku KIMIA DASAR 1 merupakan buku nonfiksi sains yang membahas khususnya ilmu kimia yang menjadi prasyarat untuk menguasai ilmu-ilmu modern. Buku ini membahas secara lengkap dan mendetail tentang semua pengetahuan dasar kimia antara lain :
Pendahuluan, Stoikiometri, Energitika Kimia, Struktur atom, Sistem periodik, Ikatan kimia dan struktur molekul. Pendahuluan membahas tentang masalah pokok ilmu kimia sehingga akan lebih mudah untuk mempelajari bab-bab selanjutnya.
 
     Dari segi susunannya buku ini sudah baik. Kerangka buku sudah disusun dengan baik karena ada keterkaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Tingkat materi yang diberikan juga bertahap sehingga pembaca mengetahui apa itu ilmu kimia lalu penerapan ilmu-ilmu kimia.

     Dari segi isi, buku ini menganalisis setiap persoalan dengan baik dan serius. Setiap materi dibahas secara mendetail dan juga disediakan contoh soal dalam dua jenis yaitu contoh soal yang disertai pembahasan dan contoh soal yang tidak disertai pembahasan sehingga pembaca dapat melatih kemampuannya.

     Dari segi bahasa, buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, buku ini juga menggunakan bahasa yang sesuai dengan EYD. Tetapi ada beberapa simbol yang tidak diberi keterangan sehingga pembaca sulit memahami simbol tersebut.

     Dari segi teknis, buku ini sudah baik. Untuk sampul depan kurang menarik dan gambar yang ditampilkan sesuai dengan judul buku. Buku ini juga dicetak dengan rapi dan jarang ditemukan kesalahan pencetakan. Buku ini mencantumkan gambar-gambar dan ilustrasi yang mendukung teori dan hukum yang bersangkutan. Tetapi buku ini kurang berwarna sehingga ada beberapa gambar yang ditampilkan kurang jelas.

Secara keseluruhan, buku ini sudah baik sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada pembacanya.

Minggu, 02 November 2014

Menyimak yang Baik dalam Perkuliahan


Menyimak merupakan salah satu kemampuan berbahasa selain berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak merupakan kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara sungguh-sungguh, seksama sebagai upaya untuk memahami ujaran itu sebagaimana yang dimaksudkan oleh pembicara dengan melibatkan seluruh aspek mental kejiwaan seperti mengidentifikasi, menginterpretasi, dan mereaksinya. Kompleksitas menyimak pemahaman dengan menunjukkan bahwa si penyimak harus secara terus menerus mengintegrasikan kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi sinyal-sinyal yang terucap dari suara-suara sekelilingnya.
2.      Memilah aliran ujaran ke dalam kata-kata.
3.      Menangkap dan merangkaikan struktur tuturan.
4.      Memformulasikan respon-respon yang sesuai (dalam menyimak intektif).
Salah satu kegiatan menyimak adalah menyimak materi kuliah. Kuliah merupakan penyampaian materi perkuliahan oleh dosen kepada mahasiswa.
Beberapa cara ampuh yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengingat dan memahami materi dengan mudah dalam menyimak kuliah adalah sebagai berikut.
1.      Mahasiswa harus siap mengikuti perkuliahan.
Menyiapkan diri dan menyambut dengan senang mengenai materi perkuliahan yang akan disampaikan oleh dosen. Dengan perasaan siap untuk mengikuti perkuliahan, akan memudahkan mahasiswa dalam menyimak materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen. Setelah mahasiswa mudah dalam menyimak materi perkuliahan, artinya diharapkan mahasiswa juga akan mudah dalam mengingat dan memahami materi perkuliahan yang disampaikan dosen.
2.      Memperhatikan materi perkuliahan dari awal sampai akhir.
Ketika dosen sudah masuk ke dalam ruang kelas dan mulai menyampaikan materi perkuliahan, mahasiswa diharapkan mulai memperhatikan dosen menyampaikan materi. Biasanya, dosen akan menyampaikan pokok bahasan di awal kegiatan pembelajaran atau permulaan. Jadi, jangan sampai mahasiswa lengah sehingga tidak memperhatikan penyampaian pokok bahasan yang disampaikan dosen di awal pekuliahan. Jika mahasiswa tidak memperhatikan perkuliahan dari awal, maka mahasiswa akan merasa jenuh menyimak materi selanjutnya dalam perkuliahan tersebut. Padahal, mahasiswa juga harus tetap konsentrasi sampai pada akhir perkuliahan untuk mendapatkan kesimpulan dari semua uraian materi kuliah.

3.      Menyiapkan buku catatan dan sumber belajar (buku kuliah).
Sambil menyimak materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen, mahasiswa bisa mencatat pokok bahasan apa saja yang disampaikan dosen di buku catatan yang telah disiapkan sebelumnya. Pokok bahasan yang sekiranya penting dan harus dicatat, maka catatlah.
Pokok bahasan yang harus dicatat, misalnya seperti mencatat setiap materi penting yang disampaikan oleh dosen di awal perkuliahan. Kemudian mencatat poin-poin penting isi materi perkuliahan serta mencatat kesimpulan yang disampaikan dosen di akhir perkuliahan. Mahasiswa juga bisa mencatat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sebagian mahasiswa yang bertanya kepada dosen. Hal tersebut dapat memberikan pemahaman dan tambahan pengetahuan tentang materi yang belum dipahami oleh mahasiswa. Selain dengan mencatat materi dan pertanyaan, mahasiswa juga bisa menandai pokok bahasan penting yang terdapat pada sumber belajar yang dibawanya (buku kuliah) yang materinya sesuai dengan apa yang disampaikan dosen dalam perkuliahan.
4.      Mengulang materi berulang kali.
Agar mahasiswa dapat mengingat materi yang telah disampaikan oleh dosen, maka mahasiswa harus sering mengulangnya dengan mempelajari, membuka catatan, dan membacanya di kala waktu senggang. Misalnya, ketika dalam perjalanan pulang di bus, jangan segan-segan untuk membuka kembali catatan yang telah dicatat pada waktu perkuliahan berlangsung.
Mahasiswa juga bisa menghafalnya sedikit demi sedikit. Cara menghafal yang bisa dilakukan mahasiswa yaitu dengan menutup mata dan mendapatkan gambaran dari penjelasan dan ringkasan yang ada. Cobalah untuk membacanya terlebih dulu. Pilahlah kata-kata kunci yang penting dan digarisbawahi atau dengan model ilustrasi sendiri atau dengan grafis, seperti gambar, diagram warna, dan grafik.
          Selain dari keempat cara ampuh di atas, terdapat faktor-faktor yang dapat mendukung pemahaman materi yang dimiliki mahasiswa dalam menyimak kuliah. Pertama, materi kuliah. Materi kuliah yang menarik yang disampaikan oleh dosen dapat memberikan minat kepada mahasiswa untuk melakukan penyimakan dengan seksama. Adanya minat dari mahasiswa untuk menyimak materi perkuliahan dengan seksama, diharapkan mahasiswa dapat dengan mudah memahami materi perkuliahan. Kedua, penyampaian materi. Penyampaian materi oleh dosen dengan pemakaian bahasa yang baik dan jelas dapat menyemangati mahasiswa dalam menyimak materi perkuliahan. Selain itu, uraian pokok materi yang disampaikan dosen dengan menggunakan contoh, perbandingan, analogi dan sebagainya dapat memberikan pemahaman yang baik kepada mahasiswa. Jadi, materi kuliah dan cara penyampaian materi oleh dosen, keduanya harus menarik. Jika kedua faktor tersebut bisa didapatkan mahasiswa dalam proses perkuliahan, maka kedua faktor tersebutpun dapat mendukung dalam memberikan pemahaman yang baik untuk mahasiswa.
          Demikian beberapa cara ampuh dan faktor pendukung yang dapat dilakukan mahasiswa dalam rangka meminimalisir kesulitan mahasiswa dalam mengingat materi dan meningkatkan pemahaman materi dalam menyimak kuliah. Semoga dari beberapa cara ampuh di atas dapat memberikan solusi terbaik untuk mahasiswa yang ingin meningkatkan pemahaman dan mengingat materi dalam perkuliahan. Tidak ada cara yang instan bagi mahasiswa untuk bisa mengingat dan menghafal materi kuliah.

Kontribusi dalam Bahasa Indonesia


Kita dapat memulai menggunakan Bahasa Indonesia dengan yang baik dan benar selain dengan lisan juga dapat melalui media sosial, selain itu kita dapat memberi inspirasi kepada anak muda yang lain yang menggunakan media sosial agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Tanpa meninggalkan bahasa daerah masing-masing, karena Indonesia banyak memiliki banyak bahasa daerah dan hal ini sesuai dengan isi Sumpah Pemuda yang ketiga “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
               

Jumat, 31 Oktober 2014

Keterampilan Berbahasa (Berbicara)


KETERAMPILAN BERBICARA

          Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan sehingga gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran pembicara dapat dipahami orang lain. Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif melalui lambang-lambang bunyi agar terjadi kegiatan komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Memang setiap orang dikodratkan untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara lisan, tetapi tidak semua memiliki keterampilan untuk berbicara secara baik dan benar. Oleh karena itu, pelajaran berbicara seharusnya mendapat perhatian dalam pengajaran keterampilan berbahasa di sekolah dasar.
Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan dan menyampaikan pikiran, gagasan, serta perasaan. Dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.
Keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan ide, pikiran, gagasan, atau isi hati kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Konteks kegiatan berbicara dalam era modern seperti sekarang bisa berwujud bermacam-macam kegiatan, baik dalam kontek komunikasi lisan yang bersifat informal sampai kegiatan komunikasi lisan yang bersifat formal yang melibatkan pembicara dan pendengar.
Salah satu sumber yang menyebutkan bahwa kegiatan komunikasi lisan dalam konteks masyarakat sekarang contohnya berceramah, berdebat, bercakap-cakap, berkhotbah, berwawancara, berdiskusi, menyampaikan permintaan maaf, memperkenalkan diri, dll. 
Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan:
1.      Penguasaan bahasa
2.      Bahasa
3.      Keberanian dan ketenangan
4.      Kesanggupan menyampaikan ide dengan lancar dan teratur.

Cara melatih keterampilan berbicara, yaitu:
1. Biasakan berbicara di depan orang banyak
2. Banyak berdiskusi dengan orang lain
3. Aktif diorganisasi
4. Banyak bergaul
Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif. Kemampuan berkomunikasi secara lisan ini menjadi fokus kemampuan berbahasa,terutama siswa asing. Dalam pengajaran berbicara yang paling penting adalah mengajarkan keterampilan berkomunikasi lisan dengan orang lain. Hal-hal yang perlu dilatihkan adalah :
1.    Menghilangkan kesalahan melafalkan bunyi-bunyi bahasa misalnya bunyi [e] [E] dianggap sama. Kesalahan melafalkan bunyi sering terjadi karena pembicara lupa melafalkan salah satu bunyi yang seharusnya dilafalkan. Misalnya kata instruksi dilafalkan [intruksi], interupsi [intrupsi] sebaliknya kata indentik dilafalkan [identil].
2.    Menghilangkan kesalahan memilih kata-kata atau istilah yang tepat. Hal ini berhubungan dengan diksi. Diksi berkaitan dengan makna. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata yang mempunyai daerah makna yang sama.
Contoh: melihat, menengok, melayat, menjenguk, menonton, memperhatikan, mengintip, dan meninjau.
Dalam kalimat seperti:
            Ia menonton pertandingan sepak bola.
            Ia menjenguk temannya yang sakit.
Kalimat ini tentu janggal bila diucapkan dengan diksi yang berbeda, misalnya kalimat:
            Ia mengintip pertandingan sepak bola.
            Ia menonton temannya yang sakit.
Bagi pembelajar asing hal ini tentu bukan hal yang mudah.
3.     Menghilangkan penggunaan kalimat yang samar-samar atau yang menimbulkan penafsiran yang berbeda.
4.    Menghilangkan pengungkapan pikiran yang tidak logis atau kacau. Misalnya:  
                               Dalam rapat itu membicarakan kasus pencurian mobil.
(Seharusnya, rapat itu membicarakan kasus pencurian mobil)
5.      Menghilangkan kesalahan struktur kalimat.
6.      Menghilangkan penggunaan kata mubazir.
Contoh:
            Ia adalah seorang anggota polisi.
            Ia polisi.