KETERAMPILAN BERBICARA
Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan dan
menyampaikan pikiran, gagasan, serta perasaan. Dapat dikatakan bahwa berbicara
merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan
yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia
demi maksud dan tujuan gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.
Keterampilan
berbicara adalah kemampuan untuk mengekspresikan, menyatakan, serta
menyampaikan ide, pikiran, gagasan, atau isi hati kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa lisan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Konteks kegiatan berbicara dalam era
modern seperti sekarang bisa berwujud bermacam-macam kegiatan, baik dalam
kontek komunikasi lisan yang bersifat informal sampai kegiatan komunikasi lisan
yang bersifat formal yang melibatkan pembicara dan pendengar.
Salah satu sumber yang menyebutkan
bahwa kegiatan komunikasi lisan dalam konteks masyarakat sekarang contohnya berceramah,
berdebat, bercakap-cakap, berkhotbah, berwawancara, berdiskusi, menyampaikan
permintaan maaf, memperkenalkan diri, dll.
Kegiatan
berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu
pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan:
1. Penguasaan bahasa
2. Bahasa
3. Keberanian dan ketenangan
4. Kesanggupan menyampaikan ide dengan
lancar dan teratur.
Cara melatih keterampilan berbicara,
yaitu:
1. Biasakan berbicara di depan orang
banyak
2. Banyak berdiskusi dengan orang
lain
3. Aktif diorganisasi
4. Banyak bergaul
Berbicara
berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif. Kemampuan berkomunikasi
secara lisan ini menjadi fokus kemampuan berbahasa,terutama siswa asing. Dalam
pengajaran berbicara yang paling penting adalah mengajarkan keterampilan
berkomunikasi lisan dengan orang lain. Hal-hal yang perlu dilatihkan adalah :
1. Menghilangkan
kesalahan melafalkan bunyi-bunyi bahasa misalnya bunyi [e] [E] dianggap sama. Kesalahan
melafalkan bunyi sering terjadi karena pembicara lupa melafalkan salah satu bunyi
yang seharusnya dilafalkan. Misalnya kata instruksi
dilafalkan [intruksi], interupsi [intrupsi] sebaliknya kata indentik
dilafalkan [identil].
2. Menghilangkan
kesalahan memilih kata-kata atau istilah yang tepat. Hal ini berhubungan dengan
diksi. Diksi berkaitan dengan makna. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata
yang mempunyai daerah makna yang sama.
Contoh:
melihat, menengok, melayat, menjenguk,
menonton, memperhatikan, mengintip, dan meninjau.
Dalam
kalimat seperti:
Ia
menonton pertandingan sepak bola.
Ia
menjenguk temannya yang sakit.
Kalimat
ini tentu janggal bila diucapkan dengan diksi yang berbeda, misalnya kalimat:
Ia
mengintip pertandingan sepak bola.
Ia
menonton temannya yang sakit.
Bagi
pembelajar asing hal ini tentu bukan hal yang mudah.
3. Menghilangkan
penggunaan kalimat yang samar-samar atau yang menimbulkan penafsiran yang
berbeda.
4. Menghilangkan
pengungkapan pikiran yang tidak logis atau kacau. Misalnya:
Dalam rapat itu membicarakan kasus pencurian
mobil.
(Seharusnya, rapat itu
membicarakan kasus pencurian mobil)
5. Menghilangkan
kesalahan struktur kalimat.
6. Menghilangkan
penggunaan kata mubazir.
Contoh:
Ia
adalah seorang anggota polisi.
Ia
polisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar